468x60 Ads

PENUMBUHAN DAN PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN PETANI

Penumbuhan kelompoktani dapat dimulai dari kelompok-kelompok/ organisasi sosial yang sudah ada di masyarakat yang selanjutnya melalui kegiatan penyuluhan pertanian diarahkan menuju bentuk kelompoktani yang semakin terikat oleh kepentingan dan tujuan bersama dalam meningkatkan produksi dan pendapatan dari usahataninya (Departemen Pertanian, 2007)
Kelompoktani juga dapat ditumbuhkan dari petani dalam satu wilayah, dapat berupa satu dusun atau lebih, satu desa atau lebih, dapat  berdasarkan domisili atau hamparan tergantung dari kondisi penyebaran penduduk dan lahan usahatani di wilayah tersebut. Penumbuhan dan pengembangan kelompoktani didasarkan atas prinsip dari, oleh dan untuk petani. Jumlah anggota kelompoktani 20 sampai 25 orang petani atau disesuaikan dengan kondisi lingkungan masyarakat dan usahataninya (Margono S, 1989).
Kegiatan-kegiatan kelompoktani yang dikelola tergantung kepada kesepakatan anggotanya.  Dapat berdasarkan jenis usaha, unsur-unsur sub sistem agribisnis (pengadaan sarana produksi, pemasaran, pengolahan hasil pascapanen). Dalam penumbuhan kelompoktani tersebut perlu diperhatikan kondisi-kondisi kesamaan kepentingan, sumber daya alam, sosial ekonomi, keakraban, saling mempercayai, dan keserasian hubungan antar petani, sehingga dapat merupakan faktor pengikat untuk kelestarian kehidupan berkelompok, dimana setiap anggota kelompok dapat merasa memiliki dan menikmati manfaat sebesar-besarnya dari apa yang ada dalam kelompoktani.
A.                Prinsip-prinsip Penumbuhan Kelompoktani
          Penumbuhan kelompoktani didasarkan kepada prinsip-prinsip sbb:
1)     Kebebasan, artinya menghargai kepada para individu para petani untuk berkelompok sesuai keinginan dan kepentingannya.  Setiap individu memiliki kebebasan untuk menentukan serta memilih kelompoktani yang mereka kehendaki sesuai dengan kepentingannya. Setiap individu bisa tanpa atau menjadi anggota satu atau lebih kelompoktani
2)      Keterbukaan, artinya penyelenggaraan penyuluhan dilakukan secara terbuka antara penyuluh dan pelaku utama serta pelaku usaha.
3)      Partisipatif, artinya semua anggota terlibat dan memiliki hak serta kewajiaban yang sama dalam mengembangkan  serta mengelola (merencanakan, melaksanakan serta melakukan penilaian kinerja) kelompoktani.
4)      Keswadayaan, artinya mengembangkan kemampuan  penggalian potensi diri sendiri para anggota dalam penyediaan dana dan sarana serta pendayagunaan sumber daya guna terwujudnya kemandirian kelompoktani.
5)      Kesetaraan, artinya hubungan antara penyuluh, pelaku utama dan pelaku  usaha yang harus`merupakan mitra sejajar.
6)      Kemitraan, artinya penyelenggaraan penyuluhan yang dilaksanakan berdasarkan prinsip saling menghargai, saling menguntungkan, saling memperkuat, dan saling membutuhkan antara pelaku utama dan pelaku usaha yang difasilitasi oleh penyuluh.
B.                Proses Penumbuhan Kelompoktani
          Penumbuhan kelompoktani dilaksanakan melalui langkah-langkah sbb:
1)     Pengumpulan data dan informasi yang meliputi antara lain:
a)     Tingkat pemahaman tentang organisasi petani;
b)     Keadaan petani dan keluarganya;
c)      Keadaan usahatani yang ada;
d)     Keadaan sebaran, domisili dan jenis usahatani
e)     Keadaan kelembagaan masyarakat yang ada.
2)     Advokasi (saran dan pendapat) kepada para petani khususnya tokoh-tokoh petani setempat serta informasi dan penjelasan mengenai:
a)     Pengertian tentang kelompoktani, antara lain Apa kelompoktani, tujuan serta manfaat berkelompok untuk kepentingan usahatani serta hidup bermasyarakat yang lebih baik lagi;
b)     Proses atau langkah-langkah dalam menumbuhkan/membentuk kelompoktani;
c)      Kewajiban dan hak setiap anggota kelompok serta pengurusnya;
d)     Penyusunan rencana kerja serta cara kerja kelompok

Penumbuhan/pembentukan kelompoktani dilakukan dalam pertemuan atau musyawarah petani yang dihadiri oleh tokoh masyarakat, pamomg desa, penyuluh pertanian sebagai mitra kerja petani dan instansi terkait, Selanjutnya kesepakatan membentuk kelompoktani dituangkan dalam berita acara pembentukan kelompoktani. Pemilihan pengurus kelompok dilakukan secara musyawarah-mufakat dari anggota oleh seluruh anggotanya. Perangkat kepengurusan kelompoktani sekurang-kurangnya terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara.

C.                Pengembangan Kelompoktani
             Pengembangan kelompoktani diarahkan  pada peningkatan kermampuan kelompoktani dalam melaksanakan fungsinya, peningkatan kemampuan para anggota dalam mengembangkan agribisnis, penguatan kelompoktani menjadi organisasi petani yang kuat dan mandiri yang dicirikan sebagai berikut (Departemen Pertanian, 2007):
1)     Adanya pertemuan/rapat anggota/rapat pengurus yang diselenggarakan secara berkala dan berkesinambungan
2)     Disusunnya rencana kerja kelompok secara bersama dan dilaksanakan oleh para pelaksana sesuai dengan kesepakatan bersama dan setiap akhir pelaksanaan dilakukan evaluasi secara partisipatif
3)     Memiliki aturan/norma yang disepakati dan ditaati bersama
4)     Memiliki pencatatan/pengadministrasian organisasi yang rapih;
5)     Memfasilitasi kegiatan-kegiatan usaha bersama di sektor hulu dan hilir
6)     Memfasilitasi usahatani secara komersial dan berorientasi pasar
7)     Sebagai sumber, serta pelayanan informasi dan teknologi untuk usaha para petani umumnya dan anggota kelompoktani khususnya;
8)     Adanya jalinan kerja sama antara kelompoktani dengan pihak lain;
9)     Adanya pemupukan modal usaha, baik iuran dari anggota atau penyisihan hasil usaha/kegiatan kelompok.

D.                Peningkatan Kemampuan Anggota Kelompoktani
Upaya peningkatan kemampuan petani anggota kelompoktani meliputi :
1)     Menciptakan iklim kondusif agar para petani mampu untuk membentuk dan menumbuhkembangkan kelompoknya secara partisipatif (dari, oleh dan untuk petani);
2)     Menumbuhkembangkan kreativitas dan prakarsa anggota kelompoktani untuk memanfaatkan setiap peluang usaha, informasi dan akses permodalan yang tersedia;
3)     Membantu memperlancar proses dalam mengidentifikasi kebutuhan dan masalah serta menyusun rencana dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam usahataninya;
4)     Meningkatkan kemampuan dalam menganalisis potensi pasar dan peluang usaha serta menganalisis potensi wilayah dan sumber daya yang dimiliki untuk mengembangkan komoditi yang dikembangkan/diusahakan guna memberikan keuntungan usaha yang lebih besar;
5)     Meningkatkan kemampuan untuk dapat mengelola usahatani secara komersil, berkelanjutan dan akrab lingkungan;
6)     Meningkatkan kemampuan dalam menganalisis potensi usaha masing-masing anggota untuk dijadikan satu unit usaha yang menjamin pada permintaan pasar dilihat kuantitas, kualitas serta kontinuitas;
7)     Mengembangkan kemampuan untuk menciptakan teknologi lokal specipik;
8)     Mendorong dan mengadvokasi agar para petani mau dan mampu melaksanakan kegiatan simpan-pinjam guna memfasilitasi pengembangan modal usaha.
Dasar Penumbuhan Kelompoktani
Adanya kepentingan dan tujuan bersama,
Penumbuhan kelompoktani dapat dari :
      a. kelompok-kelompok/organisasi sosial yang sudah ada,
      b. petani dalam satu wilayah,  dapat berupa satu dusun  atau lebih, satu desa atau  lebih
      c.   berdasarkan domisili atau hamparan
      d. anggota kelompoktani 20 sampai 25 petani atau disesuaikan dengan kondisi lingkungan masyarakat dan usahataninya.
Kegiatan-kegiatan kelompoktani yang dikelola  tergantung kepada kesepakatan anggotanya.  Antara lain ; jenis usaha, unsur-unsur subsistem agribisnis
      (pengadaan sarana produksi, pemasaran, pengolahan hasil pasca panen),

E.              Penyelenggaraan Pengembangan Kelompoktani
Dalam pengembangan kelompoktani, pemerintah dan pemerintah daerah pada dasarnya berperan menciptakan iklim untuk berkembangnya prakarsa  dan inisiatif para petani, memberikan bantuan kemudahan/fasilitas dan pelayanan informasi serta pemberian perlindungan hukum. Pengembangan kelompoktani  meliputi :diselenggarakan di semua tingkatan baik tingkat desa, kecamatan dan  kabupaten dan propinsi.   
Penanggung jawab pengembangan kelompoktani di tingkat desa adalah Kepala Desa, sedangkan operasionalnya dilaksanakan oleh penyuluh pertanian yang bertugas di wilayah tersebut dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a.       Menghadiri pertemuan/musyawarah yang diselenggarakan oleh kelompoktani
b.      Menyampaikan berbagai informasi dan teknologi usahatani
c.       Memfasilitasi kelompoktani dalam melakukan PRA, penyusunan rencana definitif kelompok (RDK) dan rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK).
d.      Penyusunan programa penyuluhan pertanian desa/kelurahan,
e.       Mengajarkan berbagai keterampilan usahatani serta melakukan bimbingan dan penerapannya
f.       Membantu para petani untuk mengidentifikasi permasalahan usahatani yang dihadapi, serta memilih alterrnatif pemecahan yang terbaik,
g.      Mengiventarisir masalah-masalah yang tidak dapat dipecahkan oleh kelompoktani dan anggota untuk dibawa dalam pertemuan di BPP,
h.      Melakukan pencatatan mengenai keanggotaan dan kegiatan kelompoktani yang tumbuh dan berkembang di wilayah kerjanya,
i.        Menumbuhkembangkan kemampuan manajerial, kepemimpinan, dan kewirausahaan kelembagaan tani serta pelaku agribisnis lainnya,
j.        Memfasilitasi terbentuknya gabungan kelompoktani serta pembinaannya,
k.      Melaksanakan forum penyuluhan tingkat desa (musyawarah/rembug kontaktani, temu wicara serta koordinasi penyuluhan pertanian).

F.                 Menyusun Perencanaan Pengembangan Kelembagaan
Penumbuhan kelembagaan maupun lembaga sebagai elemen sistem agribsisnis dilaksanakan dengan 10 prinsip dasar, yaitu:1. bertolak atas kenyataan yang ada, 2. sesuai kebutuhan,3. berpikir dalam kesisteman,  4.menggunakan pendekatan partisipatif, 5. efektifitas,  6. efisiensi, fleksibilitas, 7. berorientasi pada nilai tambah dan 8 keuntungan, 9.desentralisasi, dan  10. mempertimbangkan keberlanjutan.
Ada empat langkah pokok dalam menyusun perencanaan  pengembangan kelembagaan. Keempat langkah ini mesti dijalankan satu per satu secara berurutan.
(1) Langkah satu, identifikasi jenis-jenis aktifitas yang akan dilakukan.
Seluruh aktifitas agribisnis dapat dibagi atas delapan kelompok kegiatan,  sejajar dengan delapan jenis kelembagaan, namun tidak seluruhnya harus ditangani. Gunakan 10 prinsip di atas.
(2) Langkah kedua, pilih pelakunya. Ada banyak pihak yang dapat berperan  dalam satu kelompok aktifitas (kelembagaan). Karena itu, identifikasi secara jelas siapa pelaku yang akan berperan, apakah petani secara individual, petani dalam lembaga (misalnya kelompok tani), pedagang, aparat  pemerintah, swasta, LSM, dan lain-lain (sebagai individu maupun lembaga).Dasar memilihnya adalah mana yang lebih efektif dan menguntungkan.
(3) Langkah ketiga, tetapkan pilihan kolektifitasnya. Setiap aktifitas dapat dilakukan secara individual maupun kolektif. Meskipun aktifitas secara kolektif seringkali lebih menguntungkan, namun dalam kondisi yang tidak  kondusif, aktifitas individual dapat saja lebih tepat. Setidaknya, untuk  sementara waktu, aktifitas individual dapat lebih menguntungkan.
(3) Langkah keempat, pilih lembaga yang sesuai. Jika yang dipilih adalah  aktifitas secara kolektif (menggunakan lembaga), maka pilihan selanjutnya adalah: apakah harus dibentuk baru, atau cukup menggunakan lembaga  yang sudah ada?

0 komentar:

Post a Comment